Ingin rasanya aku menghirup udara bebas. Penuh ketentraman… Menulis tanpa batas bisa ku jalani. Mungkin, tak akan ada lagi tetesan airmataku. Tak ada lagi rasa kejenuhanku. Tuhan…. Sampai kapan aku akan terus menjalani kehisupanku yang serumit ini? Yang harus menuruti semua perkataan orang disekitarku. Tuhan… Apa tak ada kesempatan bagiku tuk menjalani kehidupan yang ingin ku jalani dengan penuh kebahagiaan?
Aku iri dengan apa yang diperoleh oleh sahabatku. Menerima kebebasan memilih, dan ketenangan batin. Tidak seperti aku.. Yang harus berjuang mati-matian hanya demi selembar ijazah yang diinginkan oleh orang-orang disekitarku. Mungkin aku begitu naif. Tapi, aku hanyalah manusia yang amat tak berdaya menghadapi keputusan para diktator yang yang memberikan pilihan ultimatum. Sungguh, semua ini tidak adil bagiku.
Aku terus menjalani hidupku. Walau bagai perahu yang dihempas ombak. Kekanan…. Kekiri…. Aku terus bimbang mengikutinya. Aku tahu, jika aku terus mengikutinya aku bisa terjebak dan tenggelam bersama jutaan kesalahan yang ku perbuat. Tapi, uluran tangan tuhan kan buatku selalu percaya. Bahwa, setiap kali aku menerjang berbagai ombak, aku akan selalu selamat dengan do’a yang terus menerus ku panjatkan demi masa depanku. Demi kehidupanku.
Tuhan….. Izinkan aku tetap dalam dekapanmu… Dalam lindunganmu, sehingga aku dapat mengasai kekuatan sugesti untuk diriku. Tuhan… Tetaplah disampingku. Selamanya….
